Batan Siap Sambut Era Mobil Listrik dengan PLTN

0
36
Ilustrasi sumber energi atau bahan bakar untuk kendaraan saat ini. (foto: peter varga).

Teknologi modular menciptakan ke-4 yang dikuasai Batan, dapat digunakan terhadap reaktor nuklir selama ini. Bukan hanya, reaktor generasi baru inipun mampu menghadirkan solusi terhadap ancaman krisis masa depan, energi dan air bersih.

Pandemi Covid-19 seakan menjadi wake up call  untuk bangkit dan berbenah. Antar Presiden Joko Widodo secara perlahan hijrah dari kendaraan berbahan bakar kendaraan menuju kendaraan bermotor lisrik (KBL) perlu disambut baik.

Karena saat ini dunia memang sedang menuju ke sana. Pengamat otomotif Agus Tjahajana Wirakusumah mengungkapkan, saat ini sudah 17 negara yang mendeklarasikan diri untuk menggunakan kendaraan dengan 100 persen tanpa emisi pada tahun 2050. Menurut hitungan Agus Haryono, Deputi Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), tahun 2019 lalu jumlah KBL di seluruh dunia sudah mencapai 7,2 juta unit. Jumlah itu diperkirakan akan menjadi 245 juta kendaraan pada tahun 2030.

Di Indonesia, menurut Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Bidang Teknologi Informasi, Energi, dan Material (TIEM) , Eniya Listiani Dewi , pada 2035 akan ada 5,7 juta KBL di Indonesia. Rinciannya, 1,2 juta KBL roda empat dan 4,5 juta KBL roda dua.

Bukan hanya kendaraan pribadi, tranportasi publik mulai ancang meremajakan armadanya dengan bus listrik. Tahun depan, seperti disampaikan Dirjen Perhubungan Darat Kemenhub, Budi Setiyadi, pemerintah mulai mengoperasikan bus listrik untuk melayani transportasi publik di 5 kota di luar Ibukota yaitu Medan, Solo, Bandung, Denpasar, Surabaya, dan Jogja.

Di Ibukota, rencananya tahun ada 14 ribu unit bus listrik yang akan menggantikan bus-bus lama baik bus besar seperti Transjakarta maupun bus sedang atau medium seukuran metromini.

Pasokan Listrik

Meningkatnya populasi KBL ke depan harus dibarengi kesiapan infrastruktur penopangnya. Menurut Eniya , selain industri baterai, harus juga persediaan sistem listrik ( energy storage ) dan sistem pengisian kendaraan listrik umum (SPKLU). BPPT sendiri lebih fokus pada pengembangan fast charging station (FSC) untuk kendaraan roda empat dan roda dua.

Direktur Pembinaan Pengusahaan Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Hendra Iswahyudi mengatakan, investasi untuk SPKLU mencapai Rp 12 triliun pada 2030 untuk membangun 7.000-an SPKLU. Ia membeberkan, dalam Rencana Umum Energi Nasional (RUEN), pada 2025 pemerintah membantuan 2.200 unit mobil listrik, dan 2.13 juta unit motor listrik yang diproduksi. Jumlah tersebut akan terus meningkat, menjadi 4,2 juta unit mobil listrik dan 13,3 juta unit motor listrik di tahun 2050. Dalam RUEN tersebut, stasiun pengisian juga menjangkau 1.000 unit di tahun 2025 dan 10.000 unit di tahun 2050.

Tentu saja dibutuhkan pasokan listrik yang besar untuk bisa melayani kebutuhan tersebut. Karena pada saat bersamaan kebutuhan listrik untuk industri dan rumah tangga bakal melonjak.

Menurut peneliti dari Pusat Kajian Sistem Energi Nuklir, Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan), Edwaren Liun, permintaan energi listrik untuk sektor transportasi akan mencapai angka 300 ribu MW pada tahun 2055. Untuk KBL nilai aktualnya adalah 81 ribu MW dalam bentuk energi listrik sesuai hasil perhitungan energi. 

Penggunaan KBL bukan hanya membuat langit lebih bersih dari emisi kendaraan, namun juga hemat. Penggunaan penggunaan, penggunaan BBM jenis pertalite jika harganya Rp2.550 per kWh dan menggunakan listrik sesuai harga dari PLN saat ini sebesar Rp1.467,28 per kWh. Sedangkan jika menggunakan listrik dari pembangkit listrik tenaga nuklir yang harganya sekitar Rp1.000 per kWh.

BATAN Siap

Batan sendiri mengaku siap membangun PLTN yang aman dan ramah lingkungan jika diperintahkan. Menurut Kepala Batan, Anhar Riza Antariksawan, yang dibutuhkan saat ini adalah komitmen dari negara. Jika presiden nuklir nuklir, kata Anhar, maka investor pun banyak yang siap mendanai pembangunan PLTN.

“Jika persiapan pembangunannya tahun 2021, maka 2030 sudah bisa beroperasi dimana saat itu jumlah kendaraan listrik tidak lebih dari 3 juta unit,” ungkapnya.

Sementara itu Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Badan Teknologi Nuklir Nasional (Batan) Suryantoro mengatakan, pasokan listrik PLTN akan lebih ramah lingkungan karena tidak ada emisi karbon yang dihasilkan. Ia mengatakan, Indonesia sudah mampu lembaga PLTN dan lembaga tenaga atom internasional (IAEE).

“Tiga reaktor daya nuklir yang kami miliki di Serpong (Tangerang Selatan), Bandung (Jawa Barat), dan Yogyakarta selama ini tidak ada masalah kok,” ujarnya.

Lebih lanjut Kata, para insinyur Indonesia, menguasai teknologi reaktor terbaru atau menciptakan IV. Pengguna teknologi generasi ini masih sedikit di antara Jepang, Jerman, Rusia, dan Cina. Kelebihan teknologi generasi IV antara lain mampu menghasilkan pasokan energi listrik secara lebih efisien, tingkat keamanan jauh lebih baik dibanding generasi sebelumnya, menghasilkan limbah lebih sedikit, dan menolak proliferasi sehingga sulit dibelokkan menjadi senjata nuklir. 

Dari sisi limbah, reaktor generasi IV juga aman karena sudah direduksi. Itu karena menciptakan IV menggunakan bola-bola grafit. Sedangkan pada generasi sebelumnya, masih menyisakan uranium pada bahan bakar.

Reaktor menciptakan IV juga tidak menghasilkan gas karena gas ini bekerja pada suhu tinggi (lebih dari 650 o C) dan dapat menghasilkan bahan serpihan untuk jangka panjang.

Selain itu ukurannya yang kecil karena dapat diproduksi secara massal dan juga tidak memerlukan lahan yang luas sehingga mengurangi penempatan dan konstruksi.

Merujuk pada situs world-energy, reaktor generasi IV ini mampu menghasilkan listrik mulai 150MW – 1.500MW tergantung rancangan dan ukurannya. Karena dirncang oleh insinyur Indonesia, kandungan lokal mencapai 60%.

“Dari sisi manfaat, selain untuk listrik, reaktor ini juga bisa digunakan untuk desalinasi udara laut, pengawetan bahan makanan, proses sejumlah penyakit, hingga smelter dan memproduksi hidrogen,” terangnya.

Sementara itu Ketua Himpunan Masyarakat Nuklir Indonesia (HIMNI) Zaki Su’ud menyebut, regulasi dan hambatan politikis harus terlebih dahulu terlebih dahulu terlebih dahulu terlebih dahulu ingin investasi masuk. Bagi investor, proyek mereka tidak boleh terganggu di tengah jalan, sehingga berdampak pada keekonomian proyek.

Menurut Suryantoro, jika hambatan politis minimal, dengan teknologi generasi IV yang kami miliki, pembangunan PLTN lebih singkat menjadi 3-4 tahun. Kami juga dapat merancang reaktor untuk kebutuhan kota per kota, Dengan biaya Rp2-3 triliun, sudah bisa dibangun reaktor dengan kapasitas listrik sebesar 30MW.

“Batan bisa menyediakan solusi masalah listrik sekaligus udara bagi daerah-daerah terpencil atau daerah terpencil . Dua ancaman ancaman, yaitu energi dan energi pun dapat memberikan, ”pungkasnya.

Setia Lesmana

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini