Riset Strategis Sesuai Kebutuhan Bangsa Harus Jadi Prioritas

0
113

Usai mengalami stagnasi selama pandemi, riset dan pengembangan teknologi di Indonesia harus fokus pada pemenuhan kebutuhan bangsa yang sedang berjuang bangkit pasca krisis akibat pandemi.

Dua tahun pandemi Covid-19, membuat riset dan pengembangan teknologi (ristek) di Indonesia mandek, kecuali konsorsium riset Covid-19. Stagnasi kian diperparah karena sudah hampir tiga tahun dunia ristek Indonesia disibukkan urusan kelembagaan yang belum juga kelar.

Dimulai dengan bongkar pasang nomenklatur kementerian ristek dan pendidikan tinggi hingga peleburan semua lembaga riset baik lembaga pemerintah non kementerian (LPNK) dan badan penelitian dan pengembangan (Balitbang) kementerian ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

“Eksperimentasi yang diambil pemerintah penuh risiko. Padahal undang-undang sistem nasional Iptek tidak mengamanatkan peleburan, namun lebih ke koordinasi perencanaan, program, dan evaluasi,” beber Anggota Komisi VII DPR RI, Mulyanto saat dihubungi Sains Indonesia, akhir Maret lalu.

Ia mengatakan, pengembangan ristek di masa Covid-19 bergerak pada kuadran I alias hanya berkutat pada hal yang urgen dan penting. Riset-riset di bidang hulu tidak berjalan karena tidak memperoleh prioritas alokasi anggaran.

Tak heran, kata Mulyanto, daya saing riset Indonesia terus anjlok. Mulyanto merujuk pada laporan WEF (World Economy Forum) yang dituangkan dalam global competitivness index maupun laporan reguler WIPO dalam Global Innovation Index. Peringkat riset dan inovasi turun dan stagnan dalam beberapa indikator. Di kawasan, kita tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan Thailand. Artikel selengkapnya dapat anda baca di Majalah Sains Indonesia edisi April 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini