Agar Brain Drain Tidak Terjadi

0
126

Selain dianggap sebagai langkah mundur pengembangan sains di Indonesia, peleburan seluruh lembaga riset ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) juga dikhawatirkan memacu brain drain, di mana talenta nasional memilih pergi dan bekerja di luar negeri.

Tahun lalu pemerintah telah mengeluarkan aturan mengenai penggabungan seluruh lembaga riset di Indonesia ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Namun lembaga baru yang digadang sebagai superbody riset itu mulai diragukan karena proses peleburan puluhan lembaga riset justru berdampak pada ratusan peneliti yang kehilangan pekerjaan mereka.

Pro dan kontra akan isu sentralisasi-desentralisasi pun mengemuka di ruang publik. Sebagian pihak memaparkan bahwa di negara maju yang memiliki riset berkualitas justru melakukan desentralisasi riset ketimbang sentralisasi seperti yang dilakukan pemerintah melalui BRIN.

Sebagian lainnya justru mengatakan riset dan inovasi harus digerakkan oleh ideologi bangsa agar benar-benar berdaulat, berdikari, dan bangga dengan jati diri kebudayaannya. Maka dari itu, sentralisasi melalui BRIN adalah wajar dan sudah sepantasnya dilakukan.

Keresahan masyarakat akan munculnya brain drain juga ramai dibicarakan. Mayoritas saintis diaspora setuju terdapat rasa kurang dihargai yang memicu keputusan saintis memilih bekerja di luar negeri. Alasannya beragam. Mulai ketersediaan bidang ilmu yang diinginkan, kelengkapan keperluan riset, ilmu yang lebih luas, hingga pendanaan dan fasilitas riset. Artikel selengkapnya dapat anda baca di Majalah Sains Indonesia edisi Maret 2022

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini