Geowisata GEA 73 2026: Antara Panas Kamojang dan Persahabatan Abadi

Alumni Teknik Geologi ITB Angkatan 1973 melakukan Geowisata selama 2 hari di Garut, melanjutkan persahabatan yang sudah berlangsung lebih dari 50 tahun.

0
31

Tengah hari sudah berlalu, ketika mendung dan gerimis tipis menggantung rendah di perbukitan Kamojang. Jalanan naik turun berkelok-kelok, melibas udara dingin di luar. Dari kejauhan, pipa-pipa besar berwarna perak tampak meliuk di antara hamparan hijau, mengepulkan uap putih yang naik perlahan ke langit. Inilah pemandangan di Kamojang, kawasan panas bumi legendaris di Garut yang dikelola Pertamina Geothermal Energy (PGE). Konon, sumur panas bumi pertama sudah beroperasi sejak zaman Belanda, sekitar 100 tahun silam. 

Kamojang menjadi saksi bagaimana energi alam perut Bumi diolah menjadi listrik, jauh sebelum isu energi bersih jadi pembicaraan global. Dan PGE Kamojang menjadi destinasi pertama rombongan geowisata alumni Teknik Geologi ITB Angkatan 1973 (GEA 73) selama dua hari itu.

GEA 73 mengunjungi PLTP Kamojang yang dikelola Pertamina Geothermal Energy. Sabtu, 10 Januari 2026.
GEA 73 berdiskusi dengan pihak PGE dan mendapatkan informasi tentang tata kelola Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi.
GEA 73, yang diwakili R Sukhyar memberikan kenang-kenangan berupa Buku Kiprah GEA 73: Dari Kampus Ganesha Untuk Negeri kepada perwakilan PGE, Teza Purnama

Cerita perjalanan ini dimulai sejak Sabtu subuh, 10 Januari 2026. Pukul 05.30–06.00 WIB, satu per satu peserta datang ke Titik Kumpul 1, Jl Ampera Raya 126–126A, yang merupakan kediaman Bambang Noto, salah seorang GEA 73. Setelah semua peserta berkumpul, pukul 06.30 WIB rombongan meluncur dari Jakarta menuju Bandung.

Lalu lintas di tol relatif lancar. Namun cerita berbeda terjadi di rest area. Hampir semuanya padat merayap. Parkiran penuh, antrian toilet mengular, dan aroma kopi bercampur mie rebus seolah menjadi penanda bahwa liburan sekolah belum benar-benar usai. 

Rombongan GEA 73 Jakarta di depan kediaman Bambang Noto, sesaat sebelum berangkat menuju Bandung. Sabtu, 10 Januari 2026.
Tidak seperti lalu lintas Jakarta-Bandung yang relatif lancar, rest area justru ramai sekali. Seperti terlihat di rest area KM 88 ini.
Tiba di PGE – Kamojang. Walaupun sedikit gerimis, tapi semangat tetap membara. Itulah semangat GEA 73.

Lewat pukul 10.00 WIB, rombongan tiba di Titik Kumpul 2, Jl Purnawarman 78 Bandung, di kediaman Haposan Napitupulu, yang juga seorang GEA 73. Bergabungnya rombongan Bandung semakin menghidupkan suasana. Tanpa berlama-lama, 10-15 menit kemudian perjalanan dilanjutkan menuju Garut, menembus jalur berkelok dengan pemandangan pegunungan yang memanjakan mata. Pukul 13.45 WIB, rombongan tiba di Kantor Kamojang Pertamina Geothermal Energy (PGE), dan disambut hangat oleh Teza Purnama dan Erwandi, perwakilan manajemen PGE.

Suasana diskusi terasa cair, jauh dari kesan formal. Dalam paparannya, Teza mengajak semua peserta “menyelam” ke sejarah Kamojang. Kawasan ini bukan sekadar lapangan panas bumi biasa. Secara geologi, Kamojang adalah wilayah unik, menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) tertua dan perintis di Indonesia. Dari sinilah pionir energi panas bumi nasional bermula. Dari awalnya 30 MW, PGE kini berkembang dengan total kapasitas terpasang 235 MW.

Menurut Teza, PLTP Kamojang terus menjaga performa stabil melalui pemeliharaan rutin dan terstruktur. Pembersihan turbin dan pemantauan kualitas uap dilakukan secara berkala untuk memastikan kebersihannya, serta injeksi kembali fluida panas bumi ke reservoir agar pasokan panas bumi berkelanjutan. “Itulah mengapa kami tidak hanya memiliki sumur produksi, tapi juga sumur injeksi yang berfungsi menjaga tekanan tetap stabil,” jelasnya.

Diskusi kemudian mengalir, dari soal geologi, energi terbarukan, hingga peran masyarakat sekitar. Sebelum pamit, rombongan diperkenalkan dengan oleh-oleh khas Kamojang: kopi yang diproses dengan panas bumi. Produk UMKM pengolahan kopi binaan PGE. Salah satu Staff PGE berkelakar bahwa konon rasa kopinya sangat unik, seperti Kamojang itu sendiri.

Danau Sampireun terlihat begitu tenang, memantulkan langit Garut yang siang itu mendung.
Bernyanyi dan berjoget bersama. Melepas lelah setelah seharian perjalanan Jakarta-Bandung-Garut.
R Sukhyar dan Istri turut menyumbangkan lagu-lagu kenangan yang menambah nuansa nostalgia bagi GEA 73

Sore hari pukul 16.00, rombongan bergeser ke Kampung Sampireun. Danau Sampireun menyambut dengan tenang, airnya memantulkan langit Garut yang sedari tadi masih mendung. Pemandangan alamnya luar biasa. Ngopi sore ditemani camilan ringan terasa sempurna, seolah melepas penat setelah perjalanan panjang Jakarta-Bandung-Garut yang melelahkan. 

Menjelang petang, perjalanan dilanjutkan ke Hotel Tirtagangga, Cipanas, Tarogong. Malam harinya, suasana berubah jadi hangat dan meriah. Makan malam dilanjutkan kongko-kongko, lengkap dengan nyanyi bersama diiringi organ tunggal. Lagu-lagu lama mengalun, memancing nostalgia dan tawa, seolah mengingatkan bahwa persahabatan terkadang tidak butuh agenda rumit, cukup ruang dan luang waktu.

Minggu pagi, 11 Januari 2026, dimulai santai. Di sela-sela Garut yang diguyur hujan pagi itu, ada yang memilih berenang, berendam air hangat, olahraga ringan, atau sekadar menikmati sarapan sambil bercengkerama. Pukul 10.00, setelah hujan mereda, rombongan check out dan menuju Candi Cangkuang, candi Hindu kecil nan bersejarah yang berdiri anggun di tengah danau, dikelilingi kampung adat.

GEA 73 berpose di depan Hotel Tirtagangga. Minggu, 11 Januari 2026.
Setiabudi D dan Hardjoni mencoba 7 air sumur Kp Pulo, Desa Wisata Adat di pelataran Candi Cangkuang – Garut.
GEA 73 di situs komplek rumah adat Kp Pulo. Dinamakan kampung pulo karena dulunya berada di tengah-tengah pulau.

Rombongan lantas menutup geowisata ini dengan mampir ke Piazza Firenze van Garut, pusat kerajinan kulit asli Garut. Tas, dompet, topi, jaket—semuanya menggoda, dan kualitasnya jelas tidak perlu diragukan. Bahkan Dubes Republik Indonesia (RI) untuk Amerika Serikat (AS), Indroyono Soesilo, mendorong agar UMKM kerajinan kulit asli Garut ke depannya bisa dipamerkan dan diekspor hingga ke AS. “Akan bagus sekali kalau -produk unggulan Garut/Indonesia- ini bisa mendunia,” pesan Dubes Indroyono.

Setelah dua hari penuh kesan, sudah tiba waktunya kembali ke rumah masing-masing. Lelah? Tentu. Tapi hati terasa penuh dengan rasa syukur dan suka cita. Bagaimana tidak? Persahabatan yang dimulai sejak 1973 itu masih langgeng sampai sekarang. Walaupun mereka sempat berpisah karena masing-masing berkiprah dan berkarir di berbagai perusahaan dan instansi, bahkan ada juga yang merintis perusahaannya sendiri, tapi kekompakan itu tetap ada. Rasa-rasanya tidak banyak jurusan ataupun kampus lain yang lulusannya tetap kompak dan guyub setelah lebih dari 50 tahun mereka bersahabat.

Di Candi Cangkuang. Candi Hindu di Garut dan di dalamnya terdapat patung Siwa.
Piazza Firenze, pusat perbelanjaan fashion kulit Garut yang didesain dengan nuansa Italia. Lokasinya ada di sentra kulit Sukaregang, Garut.
Makan siang di Kampung Muara Sunda. Tempatnya sangat nyaman dan artistik. Makanannya recomended. Tumis tunjangnya juara!

Setiabudi Djaelani, GEA 73 yang didaulat sebagai koordinator Geowisata, memiliki kesan tersendiri pada trip ini. “Awalnya cukup sulit menjaring teman-teman yang mau daftar ikut. Tapi akhirnya terkumpul 19 orang,” ujarnya. Beberapa rekan sebetulnya ingin ikut, namun berhalangan. “Maklum, kita ini sudah sepuh dan banyak yang ‘dituakan’ di keluarga,” lanjutnya. 

Setiabudi berharap geowisata semacam ini bisa terus berjalan, minimal setahun sekali. Bukan sekadar untuk jalan-jalan, tapi juga menjaga silaturahmi. Bahkan ada usulan agar geowisata ke depannya lebih inklusif. “Kalau perlu tanpa iuran, pakai subsidi silang, supaya makin banyak yang ikut,” usul Amir Balfas, yang juga GEA 73.

Di Kamojang, panas bumi seakan mengajarkan satu hal positif untuk direnungkan bersama, bahwa energi terbaik bisa lahir dari kedalaman Bumi. Selama potensi panas itu dikelola dengan baik, maka energi itu akan tetap lestari dan abadi. Begitu pula dengan persahabatan GEA 73: semakin lama terpendam, justru semakin hangat ketika bertemu kembali. Semoga GEA 73 senantiasa kompak. Persahabatan abadi di bawah naungan Ganesha.

Nongkrong sembari ngopi di Piazza Firenze, Garut. Destinasi wisata fashion ini tidak kalah dengan yang di Italia. Disini, kualitas produknya juga sudah mendunia.
Kembali ke Jakarta dengan naik Whoosh. Perjalanan menuju Stasiun Tegalluar sangat ramai oleh Bobotoh. Maklum, Persib baru saja menang Derbi el-Classico vs Persija 1-0 di GBLA.
Bandung-Jakarta tidak sampai 1 Jam. Kereta cepat Whoosh memang keren.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini