Kiprah Si “Dewa Laut” Baruna Jaya

Sejak dekade 1960-an, Indonesia memiliki kapal-kapal riset yang diberi nama Baruna Jaya (BJ), diambil dari kata Sanskerta “Varuna” yang berarti Dewa Air, sang penguasa lautan dan samudra. Hingga kini Sang “Dewa Laut” ini secara kontinyu membimbing ahli-ahli kelautan Indonesia guna menelisik potensi serta kekayaan laut di Bumi Nusantara.

8
515

Luput dari pantauan publik, pada tahun 2012 lalu, United Nations Commision on the Limits of Continental Shelf (UNLCS) mengakui tambahan wilayah laut Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), seluas 4.209 km2. Ini berarti, tanpa satu letupan senjata dan tanpa satu peluru yang dimuntahkan, maka wilayah ZEEI di sebelah barat Perairan Nanggro Aceh Darussalam bertambah 4.209 km2, dan sumberdaya ZEEI di wilayah tersebut, baik ikannya, mineral, minyak dan gas buminya menjadi milik Indonesia. Ini adalah karya luar biasa para ilmuwan laut Indonesia yang didukung para diplomat kita.

Keputusan UN-LCS merupakan kulminasi kegiatan riset dan eksplorasi kelautan yang dilaksanakan oleh ahli-ahli kelautan Indonesia selama ini. Sesuai amanat United Nations Convention on Law of the Seas 1982 (UNCLOS-82), maka ZEEI diukur dari garis pangkal wilayah kedaulatan NKRI menjorok sampai 200 mil ke laut, dan sumber daya ekonomi di ZEEI adalah milik RI. UNCLOS-82 juga mengamanatkan, apabila bisa dibuktikan secara ilmiah bahwa sedimentasi dari garis pangkal yang menjorok ke ZEE menerus hingga melebihi 200 mil, maka wilayah laut di luar 200 mil ZEE itu juga menjadi bagian ZEE negara pemilik endapan sedimen tadi.

Di sinilah kemudian dengan semangat menggelora, para ilmuwan kelautan Indonesia menggelar riset dan eksplorasi di wilayah laut diluar ZEEI guna menelusuri secara ilmiah kemungkinan endapan batuan sedimen yang menjorok dari garis pangkal hingga melebihi 200 mil. Survei geofisika laut, riset geologi laut, survei seismik, survei geolistrik, dan pemboran sedimen laut segera digelar melalui beberapa ekspedisi riset kelautan menggunakan kapal-kapal riset Baruna Jaya milik BPPT dan LIPI. Beberapa wilayah di luar ZEEI diidentifikasi dan kemudian disasar untuk dilakukan riset rinci. Hasil pertama, ZEE seluas 4.209 km2, kemudian diusulkan ke UN-LCS pada tahun 2011 lalu, dan berhasil diakui pada tahun 2012. Riset dan eksplorasi laut terus dilanjutkan untuk menentukan wilayah-wilayah sedimentasi baru yang menjorok melebihi 200 mil dari garis pangkal.

Keputusan visioner Pemerintah RI di awal dekade 1990-an untuk memperkuat riset kelautan dengan mendatangkan, serta membangun sendiri, kapal-kapal riset patut diacungi jempol. Kala itu, disusun program Armada Kapal Riset yang berjumlah 8 unit, dimana 4 unit didatangkan dari luar negeri dan 4 unit lainnya dibangun di dalam negeri, dalam rangka program alih teknologi. Sayang, karena krisis ekonomi dan krisis multi-dimensional pada 1998-2000, maka hingga saat ini baru 6 kapal riset selesai dibangun, kesemuanya di beri nama Baruna Jaya. Kapal Riset Baruna Jaya I, II, III dan IV dikelola oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), sedang Baruna Jaya VII dan VIII dikelola oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Bahkan BJ VII dibangun di PT. PAL Surabaya. Belum ada rencana menggenapkan armada kapal riset ini dengan membangun Baruna Jaya V dan VI untuk LIPI.

Kapal-kapal riset tadi diberi nama Baruna Jaya (BJ), diambil dari kata Sanskerta “Varuna” yang artinya Dewa Air, sang penguasa lautan dan samudra. Sang “Dewa Laut” inilah yang kemudian membimbing ahli-ahli kelautan kita guna menelisik potensi serta kekayaan laut Indonesia. Kapal-kapal Baruna Jaya dirancang untuk misi-misi khusus, misalnya, BJ I untuk riset oseanografi, BJ II untuk riset hidrografi, BJ III untuk riset geologi-geofisika, BJ IV untuk riset perikanan, BJ VII untuk riset oseanografi dan BJ VIII merupakan kapal riset serba guna. Sudah barang tentu, peralatan yang dibawa oleh masing-masing BJ berbeda-beda. Untuk riset hidrografi, misalnya, BJ II dilengkapi multi-beam eco-sounder yang bisa memetakan profil dasar laut secara 3-dimensi, BJ III membawa peralatan geologi-geofisika, termasuk instrument pemboran dan peralatan seismik, geomagnet dan geolistrik, sedang BJ IV khusus untuk riset perikanan, dengan jaring pukat harimaunya, serta gudang pendingin yang besar.

Orang kerap lupa akan karya-karya Baruna Jaya sejak tahun 1991 lalu, lebih dari 21 tahun mengabdi. Program Digital Marine Resources Mapping (DMRM) dekade 1990-an berhasil menyelesaikan Peta Laut Indonesia sampai skala 1:100.000. Lalu ada Program Deep Sea Fisheries yang berhasil menginventarisasi ikan-ikan dan udang laut dalam di Samudra Hindia selatan Jawa, serta barat Sumatra. Guna memprediksi kehadiran El Nino (kemarau panjang) dan La Nina (musim hujan berkepanjangan) dikerahkan kapal-kapal riset Baruna Jaya untuk memasang Pelampung Triton Bouy di Lautan Indonesia, sekaligus untuk mengukur Arus Lintas Indonesia (Arlindo). Untuk mengantisipasi datangnya Tsunami pasca bencana Tsunami Aceh-2004 maka ekspedisi Baruna Jaya digelar guna memasang Tsunami Bouy, yang juga buatan ahli ahli Indonesia, di lautan Indonesia. Program eksplorasi emas dan perak di dasar laut NTT hingga dasar laut Kepulauan Sangihe – Talaud juga digelar menggunakan Kapal Riset Baruna Jaya III dan Baruna Jaya VIII.

Mungkin kita masih ingat tenggelamnya Kapal Feri Gurita di Sabang, Aceh, Januari 1996 lalu, ternyata lokasi tenggelamnya kapal tadi ditemukan oleh Kapal Riset Baruna Jaya. Begitu pula lokasi tenggelamnya Pesawat Boeing 737 Adam Air di Selat Makassar, Januari 2007, juga ditemukan melalui dukungan teknologi canggih kapal riset Baruna Jaya. Terakhir, BJ IV berhasil menemukan lokasi tenggelamnya KM Bahuga Jaya di Selat Sunda, pada September 2012 lalu.

Lain daripada itu, Baruna Jaya juga berhasil menghantar ahli-ahli kelautan Indonesia untuk tampil di forum-forum internasional. Memang kapal ini cukup modern, berbobot 1.400 ton dengan panjang 60 meter, sehingga cocok pula dipakai untuk riset dan eksplorasi di laut lepas. Melalui modal kapal riset canggih inilah maka berbagai kerja sama internasional dijalin, antara lain dengan USA, Perancis, Jerman, Italia, Jepang, Australia, Belanda, Norwegia, Korea, dan China. Sudah pasti, hal ini membuat para ilmuwan dan awak Baruna Jaya memiliki reputasi internasional. Di era globalisasi seperti sekarang ini, konektivitas global dan jaringan internasional menjadi modal yang utama. Itu sudah dimiliki oleh keluarga besar Kapal Riset Baruna Jaya di Indonesia.

Ditulis oleh: Indroyono Soesilo, Professor Riset di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi.
Artikel dimuat di Majalah Sains Indonesia edisi 14 – Februari 2013

8 KOMENTAR

  1. این امتیاز دره نذری بوسیله داشتن
    یک (روانشناس صفی و با تجربه) را
    تو نافه مشاوره خانواده را بسیار بایستگی خیس از سوی میکند.

    فردید داشته باشید که ناسپاسی هایی درون مشاوره خانواده تهران خانواده حضوری آش سایر مشاوره ها همال مشاوره مقابل از ازدواج، مشاوره همسر درمانی و
    یا مشاوره فردی لیاقت دارد.
    به طور قطع داخل این روند مسدود و نشیب های فراوانی بوشن دارد که تیممرکز خانواده درمانی تهران درنگ مع داشتن
    روانشناس خانواده سرآمد آلت تراپیست، حکیم کسی و مددکاران اجتمایی و آمیزش تراپیست سخترین شرایط را
    دلمشغولی به‌سوی شما آسانیدن میکند.

    و بایستی کران به صورت گروهی به‌جانب مشاوره
    خانوادگی در تهران احاله کنند شکل
    می گیرد و از این وجه می تواند گونه‌های مختلفی را داشته باشد.
    داخل این مدل، خانواده های صحیح‌المزاج از مرزهایی میانه والدین فرزندان
    ساختن شده اند که آهنگ انعطاف‌یافته و دلمشغولی نیمه متوجه هستند.
    از جمله روشهای روانشناسان مدخل بهترین قرارگاه
    خانواده ایجاد ارتباط ساختاری با اعضای خانواده است.
    سپس قدری از ویژگیهای کیان مشاوره خانواده مکث خواهیم گفت.

  2. Write more, thats all I have to say. Literally, it seems as though you relied on the video to
    make your point. You definitely know what youre talking about, why throw
    away your intelligence on just posting videos to your site when you
    could be giving us something informative to read?

    my website – Free Cam website

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini